Rumah Anda Membentuk Harga Diri Anak Anda


Rumah Anda Membentuk Harga Diri Anak Anda

Pernahkah kita melihat, atau bahkan mengalami sendiri, saat berada diluar rumah atau saat kita berbicara kepada orang lain kita menjadi begitu sabar dan sopan. Tetapi sebaliknya begitu kita masuk ke pintu rumah sendiri dan berinteraksi dengan pasangan dan anak-anak, kita merasa masuk ke dalam daerah kekuasaan dimana bisa dengan bebas dan seenaknya melampiaskan emosi.

Situasi rumah yang seperti itu, menjadikan rumah seakan-akan sekedar tempat persinggahan saja seperti layaknya sebuah hotel, hanya untuk tidur pada malam hari. Mengapa bisa terjadi demikian ? Karena rumah bukan lagi tempat yang nyaman, tenang dan damai bagi anak-anak terutama bagi yang mulai beranjak remaja atau dewasa.

Rumah, sebenarnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja. Rumah, seharusnya juga simbol rasa aman. Ketika anak masuk ke dalam rumah, seharusnya dia mendapat kepastian akan memperoleh perasaan aman, dicintai dan dihargai. Bukan kepastian akan adanya pertengkaran, dan kekerasan baik fisik maupun verbal. Terlebih lagi kalau pertengkaran itu adalah pertengkaran orang tuanya, maka rasa aman dan kepercayaan mereka akan segera hilang. Seringkali komunikasi antara orang tua dengan anak remajanya akan segera terputus, karena mereka lebih memilih berada diluar rumah.

Ada kata pepatah yang mengatakan "guru kencing berdiri murid kencing berlari". Hal ini sangat tepat karena apa yang dilakukan oleh orang tuanya akan ditiru anak-anaknya. Anak-anak belajar dari apa yang dilihat sehari-hari dalam keluarganya. Pertengkaran antar pasangan apalagi kalau sampai pada saling melontarkan kata-kata penghinaan secara terbuka di depan anak-anak, menjadikan sang anak merasa tak berdaya dan bersalah. Dengan pemikiran yang masih terbatas, si anak akan memaknai bahwa "hal ini terjadi karena salahku" atau "aku bertanggung jawab atas kejadian ini".

Pertengkaran diantara kedua orangtuanya membuat anak merasa dirinya "kecil" dan harga dirinya akan "rusak". Tidak perlu heran kalau pergaulan sosialnya menjadi terhambat, karena si anak akan membatasi pergaulannya. Anak seperti ini tidak berani mengajak temannya bermain ke rumah karena takut temannya akan melihat pertengkaran orangtuanya yang tentunya sangat memalukan bagi si anak. Dalam tahap yang parah, bepergian satu keluarga pun akan membuat si anak merasa tidak nyaman dan malu, karena ada kekawatiran kalau sewaktu-waktu terjadi pertengkaran di depan umum.

Baca juga : Inilah Bedanya Orangtua Baik dan Orangtua Hebat

Perasaan malu yang sudah tertanam dalam diri si anak mengakibatkan harga diri rendah yang nantinya akan menghalangi pendidikan anak dan pencapaian kesuksesan di masa depan si anak. Hal ini telah terbukti dari banyaknya kasus terapi klien dewasa dimana masalahnya sebagain besar berakar pada harga diri yang rendah, yang diawali oleh adanya pertengkaran orangtua klien.

Berikut adalah tips-tips untuk membangun rasa damai dan aman di rumah :
  • Apabila kita ingin melakukan koreksi kepada pasangan, landasi dengan rasa hormat dan fokus pada solusi. Katakan di ruang tertutup yang tidak terlihat atau terdengar oleh anak-anak. Pertengkaran terbuka apalagi disertai dengan pembunuhan karakter, melukai dan menakutkan anak-anak secara emosional.
  • Tidak penting siapa yang salah dan siapa yang benar, anak-anak tidak mengerti dan tidak memerlukan hal itu. Anak-anak hanya perlu orangtuanya hidup rukun dan damai.
  • Belajarlah mengontrol emosi. Semua bentuk emosi termasuk marah tidaklah buruk, namun yang berdampak negative adalah apabila tidak bisa mengontrol emosi, dan melampiaskannya kepada pasangan dan anak-anak.
  • Kalau ada perilaku anak yang tidak kita setujui, jangan membesarkan masalahnya melainkan fokuskan dan ajarkan anak untuk mencari penyelesaian (solusi) .
  • Berikan dukungan dengan mengungkapkan kalimat dukungan minimal satu kalimat setiap hari kepada semua anggota keluarga.

Contoh kalimat dukungan untuk anak : "Nak, papa/mama mengerti perasaanmu saat harus menghadapi ini semua, papa/mama ingin kamu tahu bahwa sebagai satu keluarga kita akan bersama-sama menghadapi dan mencari jalan keluarnya bersama-sama."

Contoh kalimat dukungan untuk pasangan : "Tahukah kamu? Salah satu keputusan terbaik dalam hidupku adalah memutuskan untuk menikah denganmu."

Selalu usahakan melihat hal negatif dari sudut pandang positif dan besarkan yang positif tersebut. Dibalik hal negatif pasti ada hal positif yang bisa diambil sebagai pelajaran, sebagai contoh : Saat seorang anak menumpahkan makanannya, hal negatifnya jangan dibesarkan dengan memarahinya tetapi sebaliknya katakan : "Kamu kaget ya…? Ini proses supaya lain kali kamu lebih hati-hati, ayo sekarang kita bereskan sama-sama … mama/papa bantu ambil sapu dan lap dan kamu yang sapu dan lap ya."

Situasi emosional yang aman di rumah akan membuat seorang anak :
  • Berani mengungkapkan pendapat, ide-idenya kepada orang lain dan dengan demikian mempunyai "kontrol diri" yang baik sehingga berani mewujudkan impiannya.
  • Belajar dan berani menghadapi berbagai situasi sosial yang beragam dan penuh dengan tantangan.
  • Belajar memandang dunia dengan perspektif yang benar. Jika mereka dibesarkan dalam suasana aman, maka hal itulah yang tertanam dalam pikiran bawah sadarnya, sehingga merekapun memandang dunia ini sebagai tempat yang aman dengan orang-orang yang beritikad baik. Sebaliknya jika dibesarkan dalam suasana penuh ancaman, merekapun memandang dunia sebagai tempat yang tidak aman, setiap orang adalah jahat dan harus curiga kepada setiap orang, sebagai akibatnya maka mereka akan menarik banyak hal-hal negatif masuk dalam hidupnya.

Setelah kita semua mengetahui betapa besar peran dan pentingnya suasana aman dan damai di rumah terhadap pengembangan anak dan pertumbuhan anak, kami mengajak segenap orangtua untuk mempraktekkan tips-tips diatas demi kebahagiaan dan kesusksesan masa depan anak-anak kita.

0 komentar